Perempuan dalam sangkar
Mata yang masih setengah terpejam kala senja datang.
Deretan tugas yang menanti.
Peluh yang mengalir deras kala berada di depan perapian.
Tak juga hadirkan rasa iba pada diri seorang lelaki yang dengan tengah menyaksikan pengorbanan perempuannya.
Bentakan demi bentakan yang setia terngiang di telinga perempuan yang hanya bisa diam menikmati rasa lelah yang menjalar di sekujur tubuhnya.
Ingin rasanya ia berlari jauh tinggalkan semua beban ini,
Namun kakinya bagai di pasung kuat.
Sungguh...tak pernah ia rasakan bebasnya dunia luar,
tak pernah ia melihat hingar bingar kota di malam hari.
Bukannya tak mau,tapi memang tak pernah diberikan kesempatan walau sebentar untuknya menikmati indahnya hidup.
Baginya hidup adalah berdiam diri menikmati rasa lelah dan sakit yang mengurungnya bagai burung dalam sangkar.
Mata yang masih setengah terpejam kala senja datang.
Deretan tugas yang menanti.
Peluh yang mengalir deras kala berada di depan perapian.
Tak juga hadirkan rasa iba pada diri seorang lelaki yang dengan tengah menyaksikan pengorbanan perempuannya.
Bentakan demi bentakan yang setia terngiang di telinga perempuan yang hanya bisa diam menikmati rasa lelah yang menjalar di sekujur tubuhnya.
Ingin rasanya ia berlari jauh tinggalkan semua beban ini,
Namun kakinya bagai di pasung kuat.
Sungguh...tak pernah ia rasakan bebasnya dunia luar,
tak pernah ia melihat hingar bingar kota di malam hari.
Bukannya tak mau,tapi memang tak pernah diberikan kesempatan walau sebentar untuknya menikmati indahnya hidup.
Baginya hidup adalah berdiam diri menikmati rasa lelah dan sakit yang mengurungnya bagai burung dalam sangkar.