Minggu, 01 Januari 2017
strom
Akusendirian, bahkan disaat aku mereka berbagi cerita tentang kebahagiaan meraka akan keluarga kecilnya.Tentang suami mereka yang sangat pengertian, tentang kebahagiaan kecil yang berdampak besar bagi mereka.
Tuhan....salahkah jalanku?? Kelirukah langkahku memilihnya??Kenapa sampai sejauh ini justru rasa kecewa yang lebih banyak dia berikan??Tau kah bahwa aku sangat lelah menghadapinya,dan aku sungguh sangat bosan dengan ke tidak berdayaan ku untuk membencinya.Walau sesungguhnya aku sangat tertekan,namun hati ini tak pernah mampu berontak keras.Lalu semua kenangan bersamanya dulu...apa yang harus aku lakukan dengan kenangan itu?buatku kenangan hanya sekedar kenangan,yang tidak akan bisa merubah keadaan,menghapus rasa lelahku,bahkan menyembuhkan rasa sakit dan kecewaku
Apalah pikiranku ini,kepenatan akan semua mendorongku untuk membuka mulut bahwa ku sangat jenuh dan lelah.Bukan harta atau pangkat yang aku butuhkan darinya,tapi kasih sayang yang abadi dan tidak akan pernah luntur untuk ku.
Aku menyayanginya bahkan sangat,bukan karna dia adalah ayah dari anakku,tapi karna sadar atau tidak dia telah masuk perlahan namun pasti dalam kehidupanku,bahkan sampai sejauh ini.Lalu pantas kau ku lampiaskan kepenatan ni kepadanya...aakkhh tapi bukankah semua ini justru berasal darinya......
Terserah mereka menganggap apa semua rasa ini.iri...memang ku akui ku iri dengan mereka,bosan...aakkhh terlalu egois rasanya kalau aku katakan aku bosan,kecewa ya mungkin hanya itu alasan yang tepat.Besarnya rasa kecewa ini bisa mewakili semua rasa.
Jika dia mengatakan kalau ku begini saat dia lagi jatuh, dia salah,,salah besar.Apakah selama ini masih belum cukup baginya mengetahui betapa ku tak pernah menuntut banyak darinya,betapa aku tak pernah memintanya lakukan ini itu.aku hanya ingin dia bisa jadi orang berguna untuk dirinya dan orang lain.Dari awal ku tau konsekuensi yang akan ku tanggung saat memutuskan hidup bersamanya,saat itu dia belum bisa dikatakan dewasa,bahkan walaupun aku lebih tua 2 th dari aku pun masih belum bisa dikatakan dewasa dan siap untuk hidup bersama.Namun dengan tekad yang aku punya maka kuputuskan menerimanya,namun dengan resiko sifatnya yang masih sangat labil pada tiap hal,bahkan hal kecil sekalipun.Kecemburuan nya yang membuatku hampir mati rasanya,sungguh melelahkan saat rasa cemburu nya datang.Saat itu ku bertekad untuk bisa merubahnya,namun nampaknya tekadku tak akan mudah untuk di laksanakan,pasalnya ku tidak bisa berbuat bicara banyak,karena sifat khilafnya mulai muncul lagi untuk dengan tega memukulku.Sakit,,namun tidak pernah melebihi sakit hati yang kurasakan.Pernah satu ketika dia memukulku entah bagaimana sampai rasanya semuanya berputar sangat kencang,ya pada saat itu aku ambruk dan harus berakhir di ruang rawat inap rumah sakit.saat itu bahkan maaf dan penyesalannya pun tidak mampu menyembuhkan rasa sakitku.Dan aku tidak mau mengkhianati diri ku untuk tidak melupakan kejadian itu.Aku bukan perempuan lemah,namun rasa kecewa ku dapat dengan mudah merobohkan ku.Tidak pernah habis pikir karna justru rasa sakit dan kecewa itu datang dari orang yang ku sayangi.
Dan sekarang entah masih bisa bertahan atau tidak aku pun tak pernah tau.Yang aku tau bahwa mungkin rasa ini akan berkurang karna kelakuannya.Tak taukah dia bahwa ku lelah di sakiti,ku lelah di bentak,ku lelah di diamkan,ku lelah tak dipedulikan,ku lelah sendiri,dan ku lelah jika selalu memikul sendiri beban hidup ini.Tak bisakah dia menjadi tempatku bersandar,tempatku berbagi....setelah Tuhan mengambil penyemangat terbaikku.Walaupun masih ada malaikat kecilku,penyemangat terindahku,anakku tersayang yang mampu buatku terus berdiri namun tak bisa ku pungkiri,ku ingin hadirnya berguna dalam hidupku.Bukan hanya sebagai pengisi hariku.
Kadang aku berfikir kemana tujuan hidup kubawa,hilang keseimbangan,hilang pegangan.Mungkin jika tak ada malaikat kecil yang selalu ada di sampingku entahlah jadi apa aku.Anakku...ya...anakku yang kini menjadi satu-satunya semangat hidupku.Entah bagaimana hidupku nanti biar Tuhan lah yang menentukan,dan kini aku hanya bisa jalani seperti air yang mengalir.
Langganan:
Postingan (Atom)